Pengrajin Tembaga, Kuningan, Aluminium Cor Dan Kaca Patri 1999

"Menjual Kualitas Membangun Kepercayaan"



BATIK PARANG - Ornamen Pintu Motif Batik Tembaga

Ide Kreatif Motif Batik Parang dari Logam Tembaga Pada Daun Pintu

Ornamen & Motif batik adalah sebuah kerangka gambar pada batik yang berupa perpaduan antara garis, bentuk dan isen sehingga menjadi satu kesatuan yang mewujudkan batik secara keseluruhan. 

motif batik parangMotif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Motif batik tersebut dibuat pada bidang-bidang segi tiga, segi empat, dan atau lingkaran. Motif-motif batik itu antara lain adalah motif hewan, manusia, geometris, motif kembang dan motif lain. 

Motif batik sering juga dipakai untuk menunjukkan status seseorang contohnya motif batik "Parang". Batik Parang merupakan salah satu motif batik yang tertua di Indonesia. Kata Parang berasal dari kata Pereng yang artinya  lereng. 

Kegiatan membatik merupakan tradisi turun menurun. Karena itu, sering juga motif batik manjadi ciri khas dari batik yang diproduksi keluarga kerajaan pada zaman dahulu.

Ada beberapa jenis BATIK PARANG  yaitu:
  • Parang Rusak, Motif ini merupakan motif batik yang diciptakan Penembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan. Motif batik ini terinspirasi dari ombak yang tidak pernah lelah menghantam karang pantai. Motif ini melambangkan manusia yang internal melawan kejahatan dengan mengendalikan keinginan mereka sehingga mereka bijaksana, watak mulia karakter yang akan menang.
  • Parang Barong, Motif ini merupakan motif yang mempunyai ukuran yang lebih besar dari parang rusak, yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Motif ini memiliki makna pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus-menerus, kebijaksanaan dalam gerak, dan kehati-hatian dalam bertindak.
  • Parang Klitik,. Motif ini merupakan pola parang dengan stilasi yang halus. ukurannya pun lebih kecil dan juga menggambarkan citra feminim, Motif ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku halus dan bijaksana. Biasanya digunakan oleh para puteri raja.
  • Parang Slobog, Motif ini melambangkan keteguhan, ketelitian dan kesabaran, dan biasanya digunakan dalam upacara pelantikan. Motif ini mempunyai makna harapan agar pemimpin yang dilantik dapat mengemban dan menjalankan tugasnya dengan amanah disertai kebijaksanaan dalam diri.
Review Image : Aplikasi Ornamen Tembaga Motif Batik Di PadiTeras Boutique Hotel Bali



Sumber Artikel : https://id.wikipedia.org/wiki/Batik_Parang
Posted on 22.57 by GUDANG ART JOGJA and filed under , , , | 0 Comments »

@Tanda Jidat Hitam - Dahi Hitam Menurut Pandangan Islam

Jidat Hitam atau Dahi Hitam Tanda-tanda Orang Sholeh atau Riya?

Islam adalah rahmatan lil alamin, yang mana syari'atnya tidak hanya untuk umat islam saja tapi bagi semesta alam sebagai Rahmat dari Allah. Bahkan diutusnya Nabi adalah sebagai rahmat, sebagaimana firman Allah "tidaklah kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekian alam" (al-Anbiya: 107)

Dalam pembahasan ini akan di kaji bagaimana pandangan sebagian orang tentang "DAHI HITAM" dalam Islam. Sebagian orang memiliki tanda hitam di jidat. Tanda hitam ini biasa dikira sebagai bekas banyaknya sujud (shalat) apakah benar?.

Hal itu didasarkan pada firman Allah dalam surat Al Fath ayat 29:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (QS. Al Fath: 29)

Siimaahum fii wujuuhihim min atsaris sujuud (tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud). Inilah yang melatari pemahaman bahwa tanda hitam di jidat itu merupakan bekas sujud.

Hal ini tidak sepenuhnya salah karena bisa jadi seseorang banyak sujud (shalat) kemudian tanpa sengaja jidatnya menghitam. Namun, penafsiran para ahli tafsir dari kalangan sahabat Nabi dan tabi’in bukan begitu.

Ibnu Abbas mengatakan maksud tanda-tanda itu adalah tanda baik yang ada pada wajah mereka. Mujahid dan mufassir lainnya menjelaskan atsaris sujud itu ialah khusyu’ dan tawadhu’.
As Saddi mengatakan bahwa shalat menjadikan wajah seseorang menjadi lebih indah. Lebih jauh Ibnu Katsir menuturkan bahwa sebagian ulama salaf mengatakan bahwa “siapa yang banyak shalat di malam harinya maka wajahnya kelihatan indah di siang harinya.”

Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan juga mengatakan hal senada.
“Siapa yang memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki penampilan lahiriahnya,” kata Umar.

“Sesuatu yang terpendam dalam jiwa akan terpancar melalui roman muka,” kata Ustman.
Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Zhilalil Quran menegaskan bahwa “min atsaris sujud” bukanlah tanda hitam di jidat sebagaimana banyak dipahami.

“Siimaahum fii wujuuhihim min atsaris sujuud (tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud). Tanda yang tampak pada wajah mereka adalah keelokan, cahaya, kecerahan dan keramahan,” kata Sayyid Qutub. “Dari sumbu ibadah teranglah kehidupan, keelokan dan kelembutan. Tanda ini bukanlah berupa tanda hitam di jidat sebagaimana yang segera dipahami saat mendengar firman Allah min atsaris sujud. Yang dimaksud atsaris sujud adalah dampak dari ibadah.”

Karena itu tidak ada tafsir yang menjelaskan bahwa banyak sujud maknanya tanda hitam di jidat, para ulama pun mengingatkan agar berhati-hati & selalu waspada. Sebab hal itu bisa menimbulkan riya’.

Ketika Ibnu Umar bertemu dengan seseorang yang memiliki tanda hitam di dahi, ia pun mengingakan. “Bekas apa yang ada di dahimu? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?”

Abu Darda juga demikian. Saat bertemu dengan orang yang memiliki tanda hitam di Jidat atau dahi, ia mengingatkan. “Seandainya bekas hitam itu tidak ada pada dirimu tentu akan lebih baik.”
Posted on 23.51 by GUDANG ART JOGJA and filed under | 0 Comments »

Recent Posts